Minggu, 25 Desember 2011

Pasar setan gunung lawu

Pasar Setan ini pada dunia materi berupa lapangan ditumbuhi rerumputan dan semak-semak. Disekeliling dan didalam lapangan yang luas itu ada banyak tempat bebatuan besar dan kecil yang tertata rapi membentuk seperti tempat pemujaan pada masa lalu,pada jaman Manusia Purba. Lapangan ini tidak ada pohon yang bisa tunbuh seperti di pinggir lapangan.

Letak Pasar Setan ini terletak di Gunung Lawu diperbatasan antara Jawa Tumur dengan Jawa tengah,sepertinya merupakan situs peninggalan Manusia Purba dan merupakan tempat Pemujaan kepada Roh-roh dan makhluk ghoib,daripada tempat menyembah kepada Tuhan yang Maha Pencipta. Tempat ini sampai sekarang masih merupakan tempat untuk memohon sesuatu kepada makhluk Ghoib,bahkan ada yang melakukan perjanjian dan transaksi dengan makhluk ghoaib Setan dan Jin.

Dapat dilihat ditempat ini kadang ada sesaji diletakkan diatas batu ditempat ini. Tapi sering juga dapat dilihat orang meletakkan uang dibawah batu yang ada disitu yaitu batu dimiringkan setelah itu uang atau benda ada juga yang berupa perhiasan yang ditaruh dibawah batu itu,anehnya setelah uang atau perhiasan yang ditaruh dibawah batu itu tidak ada yang berani mengambil-nya,apa sebabnya...takut kepada Para setan dan Jin yang ada ditempat itu.

Lebih aneh lagi yaitu dari dulu sampai sekarang benda-benda,perhiasan dan uang yang ditaruh dibawah batu-batu itu,orang-orang yang menaruh uang,perhiasan atau benda-benda tidak pernah menjumpai benda-benda yang ditaruh oleh orang lain atau yang pernah dia taruh,dari sini apa yang terjadi?

Ternyata uang,perhiasan dan benda-benda yang ditaruh ditempat itu lenyap diambil oleh makhluk ghoib yang melakukan perjanjian dan transaksi dengan manusia sesuai janjinya. Jika maksud dan tujuannya tercapai maka mereka yang melakukan perjanjian menaruh uang,perhiasan atau barang yang di janjikan kepada Setan dan jin penghuni tempat itu,diletakan dibawah batu.

Karena tempat ini merupakan tempat transaksi dan tempat perjanjian dengan makhluk ghoib Setan dan Jin ini maka tempat ini dinamakan Pasar Setan. Didunia ghaib juga merupakan tempat para Setan dan Jin melakukan perdagangan yaitu tempat ini merupakan Pasar yang ramai. Setan dan Jin di Pasar ini selain tempat berdagang sesama Setan dan Jin juga merupakan tempat transaksi dengan Manusia (antar dimensi),terjadi perpotongan Dimensi ghaib dengan alam nyata (alam materi) sungguh aneh tapi nyata.

Pernah terjadi hal yang diluar akal dan fikiran normal yaitu rombongan pendaki gunung yang mendaki Gunung Lawu ini kehabisan makanan pada malam hari,untuk sementara rombongan Pendaki ini berhenti dan dari rombongan ini dua Remaja turun kekampung untuk membeli Mie instan ke kampung yang berada tidak jauh dari tempat berhentinya rombongan itu. Kedua Remaja ini turun gunung,malam yang gelap dan langit menerangi kegelapan malam merupakan pemandangan yang sangat unik,disekeliling jalan ada pepohonan batu-batu menambah asyik-nya perjalanan.

Tidak seberapa jauh kedua Remaja ini melihat perkampungan dan dilihatnya ada pasar yang ramai orang bejualan dan ramai pula pembeli yang datang ke pasar itu. Lampu-lampu terang menerangi pasar yang ramai itu Satu Remaja itu berguman : Tempat kampung tidak jauh gini katanya jauhnya sampai dua kilo meter. Remaja satunya berkata jauh kok dulu itu aku pergi bersama A kekampung ini,tapi sekarang kok dekat ya? Aneh...tidak sampai satu kilo meter!!! Ada pasar juga...dulu aku waktu kesini tidak ada Pasar,yang ada Warung kopi dan Toko. Ayok melihat-lihat Pasar itu. Ajak Remaja yang pernah ke kampung yang dituju.

Sesampai dipasar itu mereka berdua melihat-lihat orang-orang yang berjualan sambil mencari Mie instan,ada yang berjualan pakaian,makanan,peralatan dapur,buah-buahan,mainan anak-anak dan sampailah pandangan Remaja itu kepada penjual jam tangan. Mereka berdua tertarik dan menghampiri penjual jam tangan itu. Jam tangan dilihat-lihat semuanya tak ada yang lolos dari pandangan mata dan salah satu Remaja itu tertarik dengan jam tangan yang dijual oleh penjual jam tangan itu. Terjadilah tawar menawar dengan penjual jam tangan itu.

Dalam tawar menawar harga barang itu mulai harga empat puluh ribu rupiah tawar menawar ini sampai terjadi kesepakatan harga yaitu sebesar dua puluh ribu rupiah. Dari kesepakatan harga ini jam tangan dibeli dan dikeluarkan-nya uang sejumlah uang yang disepakati. Jam tangan dan uang telah berpidah tangan,maka dipakai-lah jam tangan itu dengan hati yang senang dan bahagia,karena sudah lama ingin membeli jam tangan sekarang bisa terkabulkan keinginannya.

Sekarang mereka berdua mencari Mie Instan yang Mereka perlukan,tapi mereka tidak melihat orang berdagang Mie instan yang Mereka cari,setelah lama berputar-putar mencari Mie insatan tetapi mereka tidak menemukannya mereka berdua kemudian memutuskan kembali ke teman-temannya yang menunggu. Mulailah mereka berdua naik lagi menemui teman-temannya dan akan memberi laporan kalau Miae instan tidak didapatkan,karena tidak ada toko atau warung yang menjual Mie instan. Satu remaja yang membeli jam tangan ingin memamerkan jam tangan yang Dia beli kepada teman-temannya karena merasa senang dan sudah biasa kalau punya barang baru saling pamer dan saling menilai.

Setelah sampai di kelompoknya,Remaja yang membeli jam tangan itu meamerkan jam tangan-nya kepada semua teman-temannya,dengan diterangi lampu senter mereka bergantian melihan jam tangan. Waaahhh jam tangan yang bagus mereknya aneh,aku belum pernah melihat model jam tangan seperti ini wah keren...!!! Begitulah komentar salah satu temannya yang kebetulan dalam rombongan itu termasuk pendaki gunung senior.

Karena tertarik dengan model jam tangan yang baru dibeli itu,Remaja itu mengajak kedua temannya kembali kepasar. Aku tidak tahu kalau didekat sini ada Pasar. kata Remaja yang sudah senior dijalur pendakian Gunung Lawu itu. Maka berangkat-lah mereka bertiga,tapi ada temannya yang mau ikut juga karena ingin tahu Pasar itu,sekarang mereka berjumlah empat Remaja turun pergi ke Pasar.

Mereka berempat turun dan setelah ditempat yang seharusnya sudah mereka lihat perkampungan itu,mereka berdua tidak melihat lampu sama sekali,tidak seperti waktu mereka turun berdua tadi. Kedua Remaja itu mengingat-ingat dan melihat-lihat tempat yang tadinya ramai ada perkampungan dan Pasar yang terang-benderang sekarang yang mereka lihat kok sunyi sepi gelap tidak ada satu lampu yang menerangi ditempat itu. Mereka berempat berhenti dan kedua Remaja itu melihat di sekeliling tempat itu,sambil mengingat-ingat tanda pohon-pohon dan batu-batu ditempat itu. Disini aku sudah melihat dan disana itu tempat Pasarnya,tapi sekarang dimana yaaa...??? Kata remaja yang membeli jam tangan itu.

Ayok kesana...!!! Saya tunjukan tempat yang kamu maksud dan kamu harus mengingat tempat kamu keluar dari pasar tadi. Kata Remaja yang sudah senior di jalur pendakian

Setelah sampai di tempat yang dimaksud,kedua Remaja itu mengatakan: "setelah keluar dari Pasar melihat poho-pohon dan batu-batu yang berada di dekat lapangan itu,keadaan-nya terang". Berkata Senior:"Yang kamu maksud tempat ini yaitu di lapangan itu tempat Pasar Setan. Kalau kampungnya masih jauh,ayo Kita kelapangan sana melihat tempatnya supaya kamu paham keadaan-nya.

Ini yang kamu maksud tadi kamu masuk ke alam Jin dan Setan ditempat ini,lihat ada batu-batu yang di tata rapi disekitar lapangan ini. kata yang Senior menjelaskan. Kalau begitu tadi barang yang kamu beli milik Setan. bekata lagi. Kita kembali saja ke rombongan OK...!!!

Mereka berempat kembali lagi kerombongan yang lama menunggu tanpa hasil.
Jam tangan yang dibeli masih ada tidak mengalami perobahan,masih tetap dipakai oleh Remaja yang membeli itu

Cerita dari COMBER,Pecinta Alam "BEJHAD PALA"," Bersama Engkou Jejaki Alam Hutan Dan Desa "
NB:
Para Pendaki semuanya tidak takut kegelapan,mereka sudah biasa keluar masuk Hutan,tidak takut juga kepada Jin,Setan,Hantu dan makhluk ghoib lainnya. Mereka juga punya Etika dalam hal ini,diantaranya jika ada larangan ditempat tertentu maka Mereka tidak akan melanggar larangan itu.
 


 
« pada: Mei 25, 2008, 10:26:32 »
 :boom: :boom:MAKHLUK halus pun nampaknya perlu bertransaksi antar sesamanya. Buktinya ada Pasar Setan yang selalu ramai tiap malam di puncak Gunung Merbabu. Fenomena ini sudah lama beredar di lingkungan masyarakat yang tinggal di lereng Merbabu, salah satu gunung yang sangat dikeramatkan di Tanah Jawa. Konon di puncak, atau barangkali juga di salah satu bagian gunung ini terdapat apa yang dinamakan Pasar Setan.

Team Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat, mencoba memastikan tentang keberadaan Pasar Setan Puncak Merbabu itu.

Tim Mapala yang berjumlah 9 orang berangkat 29 Maret 2001. Mereka adalah Rudi, Irwim, Jimmy, Edwin, Rahmad, Thomas, Amin Ridwan, Sutrisno.

Saat matahari terbit di langit ufuk Timur mereka telah sampai di Kaki gunung Merbabu dan perjalanan berlangsung tancar tanpa aral melintang. Sebagai langkah pertama, Rudi dan kawan-kawannya mulai beradapfasi dengan penduduk di sekitar kaki Gunung Merbabu yang sebagian besar masih berbahasa Jawa totok sambil menggali informasi seluk-beluk tentang kepercayaan adanya Pasar Setan. Berbagai informasi tentang segala sesuatu di Merbabu, Pasar Setan ada di satu tempat yang bernama Gedong Songo. Di tempat itu, mahasiswa pecinta alam tersebut menemui kejadian yang ganjil karena bertemu dengan jasad lelaki yang telah meninggal. Posisi mayat tersebut dalam keadaan semedi. Anehnya, tubuh lelaki ini sama sekali tidak menebarkan bau busuk. Hanya pakaiannya yang nampak lusuh dengan tubuh nampak kering kerontang.

Seorang anggota Mapala mencoba mengambil gambar jasad tersebut dengan jepretan kamera. Aneh sekali, ketika tombol kamera ditekan, tiba-tiba jasad tadi lenyap begitu saja, entah ke mana.

Kejadian aneh ini disaksikan oleh seluruh anggota tim. Melihat kenyataan ini, beberapa anggota tim tak dapat menutupi perasaan takut. Mereka mengusulkan agar pendakian dibatalkan.

Setelah musyawarah, keputusan yang diambil pendakian akan tetap diteruskan. Selama pendakian, warga setempat sudah mewanti-wanti agar sepatah katapun tidak boleh keluar berbau melecehkan keadaan setempat. Juga diwanti-wani agar bila bertemu atau menjumpai apapun kani diminta diam, tak perlu banyak komentar apalagi menduga yang tidak-tidak.

Beberapa jam kemudian sampai di Tanjakan Setan dan di tempat ini lebih mencekam lagi.

Malam hari, sebuah kejadian aneh kembali berlangsung. Persis pada tengah malam. Rudi yang terjaga dari tidur mengaku melihat ada 5 jasad perempuan yang seperti menempel di atas perbukitan dekat mereka berkemah.

Rudi yang terkenal sangat pemberani pelan-pelan membangunkan anggota tim yang lain. Namun apa yang terjadi, manakala kami semua telah bangun, ke lima jasad yang tertempel itu pun lenyap.

Pagi harinya, dari Tanjakan Setan, Erwin mencoba membidikan kamera untuk merekam alam sekitar Merbabu. Usai itu mereka pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pasar Setan. Di tengah-tengah perjalanan, Thomas yang telah diperingatkan agar tidak memakai baju merah, rupanya nekad memakai baju larangan tersebut. Ujung-ujungnya, Thomas kesasar ketika hendak membuang air kecil di dekat salah satu pohon. Dia kesasar sekitar 250 meter. la baru datang hampir sejam lamanya setelah kami duluan sampai di Pasar Setan.

Malam hari tiba, semuanya berubah. Perubahan tersebut terjadi pada suhu udara yang mendadak sangat dingin, begitupun keadaan di tenda-tenda kami yang tak jauh dari titik lokasi. Anehnya lagi, malam Itu sepertinya ada sebuah keramaian, namun tak ada siapa-siapa setelah diperiksa. Keramaian ini tak lain Pasar Setan yang dipercayai warga Gunung Merbabu. (jpnn)

Gunung Lawu, Misteri Alam Babad Tanah Jawa

Nama asli Gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, Gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.

Di sana ada sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa.

Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara "mau beli apa dik?" maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.

Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau - pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan.




MISTERI GUNUNG LAWU
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.

Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar